Pernyataan itu banyak banget yang melontarkannya. Udah terlihat seperti pujian padhal itu sebenaarnya sindiran halus. Sebabnya banyak yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan senada:

“Apa sih pekerjaan seorang Safetyman?”
“Apa sih job desknya?”
“Bagaimana sih agar bisa jadi safetyman?”
Nah. Saya akan sedikit sharing beberapa hal terkait pertanyaaan diatas walaupun pengalaman saya tidak seberapa dengan para pembaca sekalian.
Secara garis besar pekerjaan seorang safetyman ada beberapa, saya akan coba rangkumkan beberapa yang menurut saya mewakili.
- Bertugas sebagai pengawas sekaligus pengingat akan berbagai rersiko dan bahaya yang ada di lapangan. Karena seringnya saat pekerja begitu focus dengan pekerjaannya akhirnya dia sampa melupakan aspek keselamatannya apalagi bagi senior-senior yang acap kali bahkan meremehkan keselamatannya.
- Sebagai ujung tombak dan tameng sekaligus jika terjadi kecelakaan di area kerja. Pasti seorang safetymanlah yang pertama kali ditanya tentang kronologi kejadian, sebab terjadinya, apakah sudah melakukan mitigasi bahayanya atau belum, mengapa hal itu bisa terjadi, bagaimana kepengawasannya dan seabrek paket interogasi lainnya.
- Menjadi model fashion yang lagi ngetren −eh salah hehe. Menjadi “Role Model” dalam pengimplementasian penggunaan Alat Penlindung Diri (APD)
Tambahan (ini sifatnya incidental ya, bahkan kadang malah jadi urgent−ckckck)
- Mengerti dan memahami secara mendetail progress dan metode pekerjaan (udah kaya supervisor)
- Bisa diandalkan dalam berbagai hal, contoh:
- Menyediakan galon minum.
- Menyediakan makan.
- Bisa jadi supir.
- Bisa menjelma menjadi penanggung jawab pekerjaan.
- Menjadi tempat keluh kesah pekerja (klinik psikiater dadakan)
- Kadang bisa jadi HRD (diminta rekrut orang, dimintai kasbon dll)
Mengasyikkan bukan? Ayo daftarkan segera diri anda dan sanak keluarga untuk menjadi anggota kami−ehh.
Antara Lelucon dan Tanggung Jawab
Banyak orang juga melihat bahwa pekerjaan seorang safetyman dan “safety-safety” yang lain adalah pekerjaan paling “mayar” (Jawa Ngapak baca: santai poll) yang ada di jagat proyek. Pekerjaan safety adalah pekerjaan paling santai tapi gaji bikin iri, bahkan ada yang gajinya melebihi supervisor atau mandor. Padahal sejatinya tidak. Dengan seabrek penjelasan saya diatas barusan menunjukkan bahwa tanggung jawab yang dipikul seorang safetyman amatlah sangat berat dan banyak. Karena kehadirannya menuntut semua aman dan terkendali jika terjadi insiden atau kecelakaan di tempat kerja. Maka tidak dipungkiri beban mental yang dipikul lumayan untuk menjadi pemicu stress ringan.
Siapa yang masih mau jadi safetyman, cung?
Tugas Negara VS Tugas Perusahaan
Negara kita tercinta ini amat sangat perhatian lho dengan masalah keselamatan kerja buktinya pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 yang mengatur tentang keselamatan kerja. Nah legal sudah dan berdasar hukum kuat juga kan pekerjaan kita. Dilindungi undang-undang pula.
Yang jadi masalah adalah saat oknum tidak bertanggung jawab mencoreng pekerjaan mulia ini dengan menampakkan “terlalu santainya” pekerjaan sebagai safetyman banyak pihak yang tidak menyukainya dan mulai meremehkan para safetyman. Ada yang kerja mengawasi sambil duduk padahal pekerja lainnya berjibaku dengan panas menyengat, debu beterbangan, paparan panas percikan mesin dan sebagainya. Ada juga yang dengan santainya sambil seruput kopi hitam di sebelah pekerja, ada yang sambil main hp −entah ngeslot atau ngegame, ada pula yang malah ngilang entah kemana pas dicari ternyata sedang mengukir mimpi menuju cakrawala. Maka bagaimana tidak dipandang sebelah mata jika praktisi keselamatan malah menampakkan keacuhannya terhadap tanggung jawabnya.
Negara memberikan landasan hukum yang cukup kuat, tapi perusahaan memandang ini hanya buang-buang anggaran. Bagaimana tidak membuang anggaran, hanya untuk menggaji satu orang yang kerjaanya hanya ngopi dan tidur di basecamp perusahaan tetap harus harus mengikuti regulasi yang dibuat oleh negara.
The Conclusion
Akhirnya, rekan-rekan semua. Pekerjaan yang tidak mudah dan terlihat santai ini mari kita display dengan attitude yang baik, tanggung jawab yang tinggi dan kepedulian yang hakiki. Maka niscaya pekerjaan kita sebagai “praktisi safety” tidak dipandang sebelah mata dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Salam Safety First!
Safety Ngapak, Selalu Kompak
